Cinta a la Barat (Sternberg) vs Cinta a la Indonesia

Cinta, menurut  Sternberg dalam The Triangular Theory of Love-nya adalah gabungan dari keakraban, hasrat (gairah), dan komitmen sehingga menghasilkan perasaan yang dinamakan cinta. Secara lebih detail, keakraban atau keintiman (intimacy) adalah elemen afeksi yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya. Gairah (passion) merupakan elemen fisiologis yang menyebabkan seseorang merasa ingin dekat secara fisik, menikmati atau merasakan sentuhan fisik, ataupun melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya. Keputusan atau komitmen (decision/commitment) adalah ketetapan untuk bertahan bersama seseorang sampai akhir. Commitment berinteraksi dengan intimacy dan passion. Bagi sebagian orang, commitment merupakan kombinasi dari intimacy dan timbulnya passion. Namun bisa saja intimacy dan passion timbul setelah adanya komitmen, misalnya perkawinan yang diatur (perjodohan). Secara umum, Keintiman dan komitmen merupakan komponen yang relatif stabil dalam hubungan dekat, sementara gairah atau nafsu cenderung relatif tidak stabil dan atau fluktuatif.

Jika ditelaah lebih dalam, teori Sternberg yang “nampaknya” sempurna sebetulnya agak kurang tepat jika digunakan untuk menganalisis konsep “cinta” yang berkembang di Indonesia dengan budayanya yang unik. Salah satu komponen yang bisa disoroti adalah passion atau gairah. Dalam budaya Timur termasuk Indonesia (yang sebagian besar norma-norma sosialnya bersumber dari ajaran-ajaran agama), passion seringkali dianggap “mengotori” suatu hubungan suci jika dilakukan sebelum adanya komitmen. Boleh saja ada kesepakatan antara laki-laki dan perempuan untuk saling mencintai, kemudian menjajagi satu sama lain dalam arti non fisik (seminimal mungkin memicu munculnya gairah).  Jika dalam hubungan pra nikah, passion sudah mendominasi, maka akan muncul masalah seperti seks bebas yang tidak sesuai dengan norma dan agama yang berlaku pada budaya Indonesia, disamping itu masalah yang juga mungkin muncul adalah adanya kehamilan yang tidak diinginkan karena terjadi diluar pernikahan.  

So….jangan ditelan mentah-mentah ya dalam menganalisis fenomena local dengan menggunakan konsep universal….salam psikologi Indonesia^_^

By : Nuke Martiarini

Iklan

Tentang psikologiusbsolo

Fakultas Psikologi Universitas Setiabudi Surakarta mulai aktif sejak tahun 2002.Kami aktif dalam berbagai macam kegiatan dan pertemuan ilmiah antar fakultas psikologi baik regional (FORKOM Fakultas Psikologi se-Jawa Tengah) maupun KOLOKIUM NASIONAL.Fakultas psikologi kami sudah terakreditasi oleh BAN-PT.Berbagai macam kerjasama sudah dibina dengan berbagai macam instansi baik swasta maupun pemerintah.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cinta a la Barat (Sternberg) vs Cinta a la Indonesia

  1. ya bu, nu nuke agi jatuh cinta apa ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s